
Apa arti sebutir permen di mata saya ? atau perasaan apa yang terjadi jika saya menaiki mobil untuk pergi dalam sebuah perjalanan ? rasanya dua hal ini akan saya jawab dengan singkat serta cepat ; ‘BIASA SAJA’. Dan jika saya kembalikan pertanyaan ini keapda anda, mungkin sebagaian besar memiliki jawaban yang hampir serumpun. Lalu apa masalahnya antar sebutir perman dan sebuah perjalanan dengan mobil pribadi ?
Kira-kira sebulan yang lalu saya melakukan liputan untuk sebuah project majalah kampus, disana saya meliput sebuah kegiatan sosial tentang program bimbingan belajar bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera. Saya mengajak seorang teman saya untuk menemani dan akhirnya dia berniat untuk menjadi volunteer dalam tim tersebut.
Setelah beberapa kali dia mengikuti acara tersebut, ia memiliki banyak cerita yang ia bagikan kepada saya. Banyak hal yang membuat saya ikut terenyuh saat dia menceritakan bagaimana kondisi anak-anak tersebut.
“...kamu tahu kha, ketika aku membawakan beberapa kembang gula untuk mereka? mereka bersorak kegirangan. Sorot matanya bagai kafilah yang menemukan oasis di padang gurun. Hal yang tak pernah ku lihat sebelumnya selama aku menjadi pembina sekolah minggu.”
“suatu ketika saat aku mengajarkan mereka menulis alfabet, seorang anak berbicara kepada ku ; kak, kapan-kapan kakak bawa mobil dong, ajak kita jalan-jalan naik mobil . Apa kamu sadar kha ? itu adalah hal yang sangat sederhana bagi kita, sesuatu yang terkesan sepele, namun itu sangat membahagiakan bagi mereka.”
Cerita yang teman saya sampaikan seolah menyadarkan saya kembali tentang kesenjangan sosial di tatanan masyarakat kita, di tengah kemegahan gedung percakar langit, kecanggihan gadget, serta kenikmatan kiluner yang tersaji di hadapan kita, masih ada banyak potret kemiskinan yang tampak seperti cerita dalam layar kaca.
Hal ini membuat saya kembali teringat tentang sebuah statement teman saya setahun yang lalu saat kita melintasi sebuah pusat perbelanjaan modern dan terkemuka di bilangan Jakarta Barat. “...mungkin ketika kita berada di dalam mall semacam ini, kita seperti Siddharta kecil di dalam istananya. Sulit bagi kita melihat fakta lain dari kemewahan yang tersaji disini.”
Ya, seolah bagai Siddharta kecil yang hanya tahu dunia seluas isatana megahnya, ia tidak paham diluar tembok istana terdapat banyak penderitaan yang ekstrim dengan kondisinya. Bukan kah itu kita ?
Sebuah fakta sosial saya temukan bahwa sebagian dari siswa didik di tempat itu berasal dari keluarga broken home, yang kurang perduli dengan pendidikan. Penghasilan orang tua mereka kurang dari standar sejahtera apalagi jika mengingat bahwa penghasilannya tak menentu. Meski beberapa orang tua perduli akan pentingnya pendidikan, mereka memiliki keterbatasan untuk membuka akses terbaik bagi anaknya dalam memperoleh pendidikan.
Saya kembali bertanya kepada anda, apakah arti sebutir permen bagi anda ? atau perasaan apa yang terjadi jika anda menaiki mobil untuk pergi dalam sebuah perjalanan ? mungkin terkesan sederhana, tapi mungkin cerita tadi mampu membuat anda lebih bersyukur tentang makna sebutir permen dan sebuah kendaraan yang sering anda tumpangi, dan itulah yang saya lakukan, setiap kali saya menaiki sebuah kendaraan yang cukup nyaman, saya selalu teringat kisah di atas dan berpikir bahwa apa yang saya nikmati saat ini adalah berkah. Hidup memang terkesan biasa saja di sekitar kita, namun bukan berarti itu sederhana dalam kehidupan orang lain.
great. u're great. x.
ReplyDelete