Tuesday, June 21, 2011

Membangun Indonesia

“Kesejahteraan”, rasanya kalimat itu sudah menjadi candu impian bagi bangsa yang konon pernah mencapai puncak kejayaannya sekitar 500 tahun yang lalu di bawah panji-panji bernama Sriwijaya dan Majapahit. Entah apa yang membuat bangsa yang dahulu sempat menjadi pusat studi dunia di bidang rohani, kini menjadi layu akan kemajuan, sarat dengan kemiskinan sosial meski beberapa kalangan menilai bangsa ini seyogyanya mampu mengembangkan sayapnya layaknya sang garuda diatas langit biru.

Tepat setahun yang lalu (2010), saya menyaksikan sebuah pagelaran tarian cantik bernama “Membangun Borobudur”. Bertempat dipelataran candi Sewu, tarian yang menceritakan bagaimana Bhumisan-Bharabudhara ini di bangun. Sebuah konfigurasi mudra bersahut gamlen jawa yang indah, anggun dan kolosal. Tak disangka, dibalik kemegahan Borobudur, terdapat sebuah warisan cerita yang tak kalah megahnya untuk anak-cucu Bangsa ini pelajari.



Bertema wayang orang Buddhis, cerita di mulai dari keinginan seorang raja Syailendra dalam membangun wahana penghormatan bagi Buddha. Keinginan tersebut akhirnya dapat terwujud atas semangat gotong royong setiap elemen kerajaan mulai dari raja hingga rakyat jelata, semua bekerja sesuai dengan kapasitasnya satu sama lain. Dalam pementasan itu juga diceritakan sikap pembangunan Borobudur yang dilakukan dengan segenap hati dan ketulusan, seketika teman saya berbisik ; “mungkin ini penyebab Borobudur masih kokoh hingga sekarang meski sudah lebih dari 1500 tahun”.

Sejenak saya mulai berpikir tentang kondisi Indonesia saat ini, keserawutan menjadi sebuah topline yang tak kunjung tergantikan. Carut marut idealisme dan kepentingan tertentu menjadi sebuah batu sandungan untuk negeri ini berkembang dengan lebih baik. Semangat pluralis yang memudar, kearifan lokal yang semakin terlindas serta semangat gotong royong yang menjadi isapan jempol.

Tarian membangun Borobudur mewariskan sebuah sebuah spirit untuk dapat merefeleksikan bagaimana semangat nenek moyang kita dahulu dalam membangun sebuah peradaban, Borobudur terbangun indah bukan karena jasa Raja Indra, Smaratungga atau Ratu Smaratungga Pramodawardhani, bukan juga karena ide arsitektural dari Guna Dharma. Namun Borobudur dapat berdiri megah atas kontribusi semua pihak yang menjadikannya ada.

Keharmonisan nenek-moyang kita dalam membangun peradaban patut kita contoh jika kita menenggok kondisi saat ini, dimana setiap elit politik berlomba-lomba menduduki kursi panas kepala negara, media massa yang ditunggangi kepentingan politik menjadi toksin pikiran bagi khalayak dan menimbulkan paradigma rakyat tak percaya pada pemerintah, saling sikut menyikut, jauh dari kata harmonis dalam membangun sebuah peradaban bangsa.

Hal yang lebih mencengangkan adalah posisi mahasiswa yang seyogyanya menjadi kaum revolusioner keilmuan, kini hanya menjadi kritikus politik yang terbuai oleh semangat demokrasi sempit atau dalam kata lain disebut demonstrasi. Entah terinspirasi oleh semangat senior-senoirnya pada tahun 1998, namun kurang bijak rasanya bagi mahasiswa sebagai bakal cendikia muda hanya bertindak bagai tikus jalanan, berteriak, membakar ban dan adu jotos dengan petugas keamanan dalam mengisi makna demokrasi dan menjalankan fungsi politiknya. Seolah tindakan tersebut tidak mencerminkan status terpelajar yang di emban para mahasiswa sebagai kaum revolusioner.

Saya tidak menentang sebuah demonstrasi jika memang dilakukan dengan cerdas dan terorganisir baik. Yang patut saya sayangkan adalah bagaimana komunitas keilmuan terpelajar mengunakan fungsi politik bukan pada tataran yang cerdas, dan dengan panji-panji perguruan tingginya, mereka bersohor untuk sebuah demonstrasi konyol tanpa memberikan hasil prima bagi perubahan serta pembangunan bangsa dan negara.

Saya mendengar gagasan Daoed Joesoef yang sejalan dengan pemikiran saya tentang konsep fungsi politik mahasiswa. Dalam lingkup perguruan tinggi, mahasiswa seyogyanya lebih mengedepankan konsep keilmuan sehingga dapat membangun sebuah peradaban modern, ini lebih cerdas daripada sekedar menuntut pemerintah dijalur demonstrasi. Sepatutnya mahasiswa mengunakan fungsi politik dengan mengembangkan 'konsep politik', atau dengan kata lain mahasiswa mampu menciptakan sebuah konsep perpolitikan baru sehingga setelah mereka terjun pasca merampungan pendidikannya mampu menawarkan konsep politik baru yang brilian kepada masyarakat, dibanding sekedar mengkritisir tanpa kontribusi nyata.

Masalah yang terjadi di bangsa ini bukan tanggung jawab pemerintah atau anggota dewan semata, ini masalah kita bersama, maka sudah sepantasnya setiap elemen bangsa dapat berkontribusi nyata sesuai dengan kapasitasnya dalam pembangunan bangsa dibanding sekedar menjadi kritikus. Bangsa ini butuh seorang kontributor nyata dibanding seorang kritikus.

Namun bukan berarti menjadi seorang kritikus bukanlah perbuatan buruk, sebuah kritik dapat menjadi baik dan berfungsi optimal jika kritik itu bukanlah sekedar omongan kosong tanpa jalan keluar, Kritik membangun adalah istilah tepat untuk meringkas itu.

Satu yang harus kita teladani dari sebuah wejangan bijak dari seorang nominator nobel perdamaian bernama Thich Nhat Hanh adalah “Peace in oneself, Peace in the world”, atau dalam penjelasan singkat bahwa kedamaian dunia tidak dapat dicapai tanpa adanya kedamaian dari dalam diri setiap orang yang hidup didalamnya. Hal ini mampu kita refeleksikan dalam bagaimana kita memperjuangkan nilai-nilai keadilan, gotong royong, kedamaian, kebinekkaan dan lain-lain di negeri ini jika kita tidak memulainya dari diri kita sendiri. Percuma jika kita hanya berteriak lantang soal keadilan jika dalam kehidupan sehari-hari kita tidak piawai dalam mengaplikasikan nilai-nilai keadilan.

Dengan mecontoh semangat gotong royong nenek moyang kita dalam membangun sebuah peradaban bangsa, sangatlah mungkin jika kelak anak-cucu kita dapat menikmati sebuah tarian kolosal baru berjudul “Membangun Indonesia”.

3 comments:

  1. i love it :)
    gue iri lo bisa liat pagelaran tari itu haha.

    ReplyDelete
  2. wah, ternyata u msh update blog gue jul. . iya tariannya sarat makna. .

    ReplyDelete
  3. haha isi blog lo bagus sih, ka. kadang" nyentil. kayak yang satu ini.

    ReplyDelete