Waria, atau yang populer disebut banci, eksistensinya menjadi sangat marjinal bahkan terkesan hina bagi kalangan umum di Indonesia. Namun sedikit membuka gagasan kita, saya akan mendefinisikan banci sesuai dengan terjemahan bebas yang terdapat di wikipedia; Waria (portmanteau dari wanita-pria) atau wadam (dari hawa-adam) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafroditisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan.
Kadang kata ‘banci’ dapat menjadi sebuah bahan olok-olokan atau julukan bagi mereka yang bermental lemah atau penakut. Namun saya memiliki gagasan lain mengenai hal itu, terlepas dari gagasan budaya, religius, dan adat. Secara pemikiran bebas harus saya akui bahwa saya belajar satu kearifan dari sosok yang terkadang membuat saya ngeri karena trauma saat berhubungan sosial dengan mereka.
Mengapa demikian ? tidakkah kita semua berpikir terkadang kita memiliki sesuatu yang sebenarnya ada dalam hati kita, namun kita takut bersuara hanya karena pandangan khalayak luas, kita takut menerima diskriminasi sosial, kita menjadi diam dan mempraktikan sebuah teori komunikasi bernama spiral of silence.
Namun berbeda dengan para kaum transgender itu, meski mereka harus berhadapan dengan cemoohan, diskriminasi sosial, dan kemarjinalan pergaulan, adat dan religius namun mereka tetap lantang menyuarakan kebutuhan biologisnya serta orientasi yang sudah ia pilih. Mereka berani mendobrak tradisi yang statis dan menghakimi.
Saya percaya diantara segelintir kehidupan manusia di dunia ini, waria menempati urutan diatas dalam sebuah kejujuran diri terhadap apa yang ia alami. Saya dedikasikan tulisan ini kepada mereka yang terdiskriminasi atas nama sebuah bias gender dan orientasi seksual. Mereka yang dengan gigih memperjuangkan diri dan kehidupannya mereka ditengah jahatnya diskriminasi yang menghakimi dan menilai tanpa mau memahami. Dan saya rasa kata ‘banci’ bukanlah sebuah julukan yang layak untuk merujuk seseorang dengan sikap mental yang lemah dan penakut.
Jangan bungkam mereka, jangan diskriminasikan mereka. Jika anda berada diposisi mereka seutuhnya anda mungkin tidak akan bertahan sehebat apa yang mereka lakukan. Mari belajar untuk mengerti dan melihat sebuah fenomena sosial sebagaimana adanya. Berhenti menilai, berhenti menghakimi dan berhenti untuk melakukan sebuah diskriminasi.

No comments:
Post a Comment