“Ibu kita Kartini,
Putri sejati, Putri Indonesia, Harum namanya.” Demikianlah
kutipan lirik lagu nasional yang sering dikumandangkan setiap 21 april. Lebih
dari 100 tahun yang lalu seorang putri bangsa ini mencoba menghapus sistem
diskriminatif yang menggekak kaum inferior (perempuan) untuk mengakses
pendidikan yang lebih baik.
Raden Ayu
Kartini, merupakan sosok gadis belia yang mampu membius mata internasional kala
itu. Semangat perjuangan non-diskriminatifnya tertuang cantik dalam setiap
surat yang ia kirimkan kesetiap sahabatnya di negeri kincir angin.
Setali tiga
uang dengan R.Ay Kartini, semangat untuk memperjuangan akses pendidikan bagi
siapa saja tetap berkobar bukan hanya di hati para bumiputera, namun juga bagi
warga peranakan tionghoa.
Salah satunya
Silvi Calista (19), di tengah moderenisasi serta budaya hidup metropolis yang
cenderung individualis, ia muncul sebagai pemerkasa gerakan bimbingan belajar
di sekitar universitas Esa Unggul. Tergerak karena perjumpaanya dengan
anak-anak dari keluarga pra-sejahtera membuat gadis kelahiran medan, 11 juli
1992 ini menghimpun relawan untuk membuat sebuah rumah singgah bagi anak-anak
kurang mampu untuk mengakses pendidikan yang lebih baik.
Kini mahasiswi
yang sedang menempuh pendidikan strata satu ilmu komunikasi ini, memiliki
beberapa rumah singgah salah satunya di tempat ia menimba ilmu. Beroperasi
setiap hari minggu pukul 14.00-15.30, rumah singgah gratis ini menampung
sekitar 70 anak di tingkat sekolah dasar kebawah. Dibantu sekitar 20 relawan
kegiatan sosial semacam ini mampu menjadi mitra anak-anak dari keluarga
pra-sejahtera untuk dapat mengakses pendidikan lebih baik.
Tidak hanya
menitikberatkan pada pendidikan formal saja, Silvi bersama timnya juga kerap
melakukan konseling psikologis setiap siswa didiknya yang sebagian besar
berasal dari keluarga dengan konflik sosial yang cukup tinggi.
“Disini ada
sebagian anak yang tidak mampu bersekolah karena tuntutan ekonomi, disini
menjadi tanggung jawab bersama untuk bisa membantu mereka dalam mengakses pendidikan”
tutur Silvi saat menjelaskan kondisi bimbingan belajarnya.
Ditengah arus
demostrasi rekan sebayanya untuk
menuntut elit politik memperbaiki sistem pendidikan yang layak bagi setiap
warga negara, Silvi hadir dengan sebuah karya nyata untuk membuka
jendela-jendela pengetahuan bagi mereka kaum papa. Tak ayal jika gadis berparas
oriental ini dapat dikatakan sebagai Kartini Peranakan atas semangatnya untuk
menghadirkan akses pendidikan bagi kaum inferior.
Bagus bro.. Keep posting yah..
ReplyDelete