Monday, January 24, 2011

Konsumerisme dan Dunia Kita

Jakarta ( 19/1), disela jam makan siang kantor, saya menemui sebuah surat kabar ibukota dengan headline yang membuat saya merasa pilu membacanya. Mengapa tidak ? surat kabar itu mewartakan Tujuh remaja putri setara SMP di Jakarta rela menjual kehormatannya demi dapat mengenggam sebuah gadget canggih nan terkenal bernama Blackberry.

Ini bukan kalih pertama saya mendengar ataupun mengetahui perjuangan seseorang dalam memiliki smartphone yang konon mempengaruhi status sosial pemiliknya. Ada pula kisah tentang remaja putri berseragam SMA di sebuah pusat perbelanjaan yang menangis pada temannya hingga bermaksud meminjam uang untuk menganti Blackberry dari tipe Curve menjadi Bold.

Sepintas mungkin banyak orang yang berkata ini adalah suatu kewajaran dan hak asasi manusia. Namun sadarkah kita bahwa pristiwa diatas mengambarkan sikap mental konsumtif remaja masa kini ? Namun sebelumnya saya harus jelaskan dahulu apa itu sikap konsumerisme, menurut Wikipedia ; konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya.

Dan saya rasa sikap mental konsumerisme merupakan masalah kita bersama yang seyogyanya harus kita sadari dan tanggulangi. Perlu saya tegaskan ini bukan masalah dengan sebongkah Blackberry semata, namun dari dua kasus yang berkaitan dengan Blackberry ini kita bisa melihat betapa konsumtifnya kehidupan di sekitar kita. bukan berarti saya menentang pemakaian Balckberry dan mengestimasi penguna ponsel non-Blackberry adalah manusia non-konsumtif.

Di zaman berkembangnya paham kapitalis dimana uang mampu sejajar dengan Tuhan, sikap konsumtif mau tak mau ikut berkembang seiring dengan kemajuan paham tersebut, dapat dikatakan bahwa kapitalisme dan konsumerisme ibarat dua sahabat yang konon selalu bersama. Tidak perlu susah payah saya menjabarkan hal tersebut terlalu rumit. Namun perlu kita sadari bahwa pola hidup kelas eksekutif kini menjadi kiblat dari pola hidup masyarakat modern, hal ini menimbulkan sikap dan pola hectic dalam sendi-sendi kehidupan kita.

Seperti kasus pengunaan Blackberry, mungkin bagi kaum eksekutif, gadget mewah ini adalah sahabat terbaik yang memang berguna secara fungsional dibandingkan nilai prestisiusnya, mereka mengunakan benda tersebut untuk keperluan bisnis yang memang berfungsi efektif. Namun apa yang terjadi saat benda canggih tersebut samapai ditangan penguna yang lebih memaknai hal tersebut sebagai suatu benda prestisius hingga menaikkan pamor pengunanya, atau dalam istilah umum dapat dikatakan ; “kalo gue ga pake BB, ntar di anggap ketinggalan zaman”. Dan itulah tujuh statement serumpun yang saya temukan dari survey kecil-kecilan saya terhadap sepuluh Blackberry user. Jadi dapat disimpulkan tujuh dari sepuluh penguna Blackberry di sekitar kita merupakan korban konsumerisme yang tidak mereka sadari.

Hal ini juga berlaku bagaimana pola pikir kita berangggapan bahwa makan sebuah sushi di mall lebih bermartabat daripada menikmati nasi dan lauk pauk di warteg, atau mengunakan busana branded itu lebih berhebat dibandingkan produk Tanah Abang yang jatuhnya kodian atau lusinan. Sebenarnya hal yang harus kita lakukan adalah kembali eling akan apa yang hedak kita lakukan, apa yang kita gunakan dan apa yang kita konsumsi.

Kita harus mulai menyadari antara kapasitas, nilai fungsional, kemampuan dan kebutuhan dalam mengunakan, membeli, ataupun mengonsumsi suatu produk. Bijak rasanya jika kita mulai terbangun oleh belenggu konsumerisme yang makin hari berkembang di seluruh belahan dunia. Bukan berarti saya mengajak kita semua untuk seutuhnya hidup dalam sikap ekstirm anti benda-benda branded. Namun marilah kita eling akan pola konsumsi kita. Menyadari apa yang baik dan apa yang buruk serta belajar hidup sederhana adalah kearifan universal yang nenek moyang kita wariskan. Sekarang menjadi pilihan setiap masing-masing personal, apaptis akan budaya konsumerisme ? atau mulai sadar dengan pola konsumsi kita baik secara fisik dan mental ? That’s your choice.

(Artikel ini dibuat untuk redaksi majalah Idee - Univ. Esa Unggul Jakarta)

2 comments:

  1. kembali pada diri kita
    apakah itu bermanfaat?
    Apakah itu pantas bila digunakan?
    Karena masih begitu banyak orang di luar yang membutuhkan bantuan kita
    dibandingkan dengan beberapa barang yang hanya dapat memanjakan keserakahan kita
    Pelajaran syukur dan cukup adalah yang utama
    nice artikel
    be happy

    ReplyDelete
  2. agak shock sih sebetulnya, tapi ya itulah faktanya.
    No comment dah.
    Sabbe satta bhavantu sukkhitatta.

    ReplyDelete