Monday, November 15, 2010

Aku, Nafas, dan Ibu


Ibu, rasanya kata ini layak menjadi mantra yang mengingatkan kita pada nilai sebuah kasih sayang dan ketulusan. Ibu adalah duta yang memperkenalkan kita pada indahnya makna mencintai, ia memberi kita kasih yang sarat nutrisi bagi perkembangan kehidupan kita. Tak heran sosoknya mendapat tempat yang cukup diperhitungkan dalam berbagai keyakinan beragama.

Terlepas dari semua pemujaan terhadap sosok ibu yang sangat sensasional, saya menulis artikel kali ini untuk memperingati lima tahun kepergian ibu saya. Tak terasa sudah setengah dekade saya harus berpisah dengan sosok yang paling menginspirasi saya, sebuah keadaan mega kompleks saat saya mengetahui keadaan bahwa saya adalah seorang anak piatu sekitar lima tahun yang lalu.

Untuk beberapa saat kepergian ibu meninggalkan kepedihan tersendiri dalam diri saya, sebuah rasa frustasi dan kepiluan selalu hadir tak kala saya harus mengenang sosok itu. Seolah itu menjadi kelemahan bagi saya, bahwa saya dapat dikatakan sebagai anak ‘mami’ alias manja. Memang tak dapat saya pungkiri bahwa saya cukup senang bermanja-ria dengannya, ia adalah perangai yang bersahaja dan penuh kasih, layaknya manifestasi dari Awalokiteswara dalam kepercayaan saya.

Rasa kecewa dan pilu itu pun terus bergeliat dan menjadi badai maha-dasyat untuk diri saya, saya menciptakan sosok ibu menjadi penderitaan halus yang tak saya sadari, sebuah momok yang buruk baginya. Hal ini tak ayal membuat saya selalu menangis jika mengingat sosok Ibu dalam pikiran mega-kompleks itu.

Sebuah metoda unik saya temukan di kesempatan retreat tahun ini bersama Zen Master Thich Nhat Hanh dan komunitas Plum Village dari Prancis, sebuah praktik mendalam nan universal yang mampu mengobati diri saya dan perspektif kebodohan saya yang tidak dapat melihat secara mendalam fenomena kepergian ibu saya.

Pencerahan akan metoda ini saya peroleh saat saya mendapat sesi curhat personal dengan seorang monastik wanita bernama Sister Dang Nghiem atau yang kerap di sapa Sister D, beliau adalah mentor kelompok dikusi saya dan teman-teman selama mengikuti retreat yang menakjubkan tersebut. Pada saat itu saya mulai bercerita tentang kegundahan pikiran saya dengan sikap ayah yang kurang mampu menjadi pendengar yang baik bagi saya hingga merujuk pada badai dasyat tersebut.

Jujur saat bercerita itu keadaan saya begitu kalut dan pikiran saya terguncang hingga bahasa inggris yang saya gunakan terkesan aneh, tidak baik, dan bodoh. Namun anehnya sister D mampu memahami semua yang ada dipikiran saya. Ia mulai bernafas panjang dan tersenyum, dengan penuh kebersahajaan ia terlihat empatik, dan mulai berbicara dengan lembut. Saya mulai terlarut dalam pembicaraan mendalam itu hingga saya mampu mengusap air mata saya yang jatuh dalam sesi itu.

Sister D menjelaskan sebuah metoda yang Thich Nhat Hanh bahas dalam beberapa sesi sebelumnya, bahwa setiap jengkal sel yang terdapat dari tubuh saya adalah manifestasi dan representasi dari ibu saya, hal ini ekuivalen dengan kajian biologi tentang DNA dan lain sebagainya. Lalu segala sikap yang saya miliki merupakan warisan dari ibu saya, seketika saya menyadari bahwa beberapa sikap dan pemikiran yang ada dalam diri saya merupakan sinkronisasi dari apa yang ibu sering lakukan dahulu serta selaras dengan teori Psikologi. Saya terenyuh pada penjelasan itu dan menyadari bahwa pada hakikatnya Ibu masih tetap hidup dalam diri saya, ia berdetak bersama setiap sel di jantung saya, bernafas bersama paru-paru dan berjalan bersama kaki saya, namun Ibu tidak berwujud sama dengan apa yang saya lihat dan proyeksikan dahulu, dahulu saya lebih menitikberatkan proyeksi semu itu dibanding sebuah hal yang begitu mendalam ini. kini saatnya saya mampu melihat secara mendalam dan memahami sebuah konsep indah ini. tak lama hal ini adalah sebuah latihan mendalam yang membebaskan saya dari ilusi kedunguan saya.

Setelah itu, sister D memberi kecupan manis di dahi saya dan berkata “This is your mother kiss” lalu ia membelai kepala saya dengan senyuman anggunnya. Ini adalah sebuah manifestasi cinta yang mendalam, sebuah kehangatan kasih yang telah hilang dari diri saya hampir lima tahun terakhir, momen ini begitu mengharukan sekaligus menjadi nutrisi yang melenyapkan badai dalam jiwa saya. sister D seolah menjadi ibu spiritual bagi saya dan teman-teman kelompok retreat tersebut, sungguh ia merupakan sosok inspiratif lain bagi kami tanpa mengeser rasa cinta pada ibu kandung kami masing-masing.

Usai momen pencerahan tersebut, kini Ibu bukan lagi menjadi badai atau momok kepedihan bagi saya, ia telah bertransormasi dan menjadi benih latihan kesadaran bagi saya. Setiap kali saya mengingat sosoknya, saya akan tersenyum sembari mengamati nafas dan berkata “Ya, ibu. . aku paham ibu ada di sini saat ini, aku mampu merasakannya, mari bernafas bersamaku Ibu. .”

Semoga ini mampu menjadi inspirasi bagi teman-teman yang memiliki problematika serupa, percayalah bahwa ia hadir dalam setiap nafas kita. Selamat mencoba. Enjoy your practice J

11 comments:

  1. buseeetttt menyentuh bgt....^^
    kalo sebagai temen sih ya tetap semangat ...
    dan tetap liat ke depan karena hari esok masih panjang...
    jalani hidup tetap berpegang teguh pada Tuhan...
    biarkan sosok ibu juga menjadi penuntun untuk penambah motivasi dan selalu berada di jalan yang benar....

    ReplyDelete
  2. wow kha
    it's touch my heart
    kasih ibu pasti sepanjang masa , dimana atau kapanpun dia berada
    selalu berkati setiap langkah baik anaknya
    hidup emang kompleks ,jadi harus dijalani dengan hati yg teguh
    :D

    ReplyDelete
  3. Andy : Well thanks ndy
    Jong : Hahahhahaha. .yups. . Kekompleksan yang terkadang bisa menjadi hiburan tersendiri :)

    ReplyDelete
  4. rahka,
    gue nangis baca post lu haha :))
    tiap kali lu ngerasa down, just remember, your mommy always breath with you in every step you take and give you a strength to stand up :)

    i'll pray for your mom today :)

    ReplyDelete
  5. Julia : Thanks jul. hahahhaha. . ibu mampu menjadi latihan kesadaran sekarang :)

    thanks for your sincely

    ReplyDelete
  6. just remember that she never leave you alone dude...^^
    edbert

    ReplyDelete
  7. Bro..Zaman sekarang gw pikir emang Perlu ya, kita Seminar tentang apa yg u Posting....^_^..

    Bnyak manfaatnya bagi anak muda sekarang...Lanjutkan!!!

    ReplyDelete
  8. Bert : well :) she is exsist in my life. .
    Yank-yank : hahhahahahaa. .just for sharing :) blog lo kok ga bisa di follow yah :)

    ReplyDelete
  9. bisa tuh...u uda follow koc....^_^
    thx bro...share k blog gw ya...blog bru itu...jg perlu sharing dr tmn2...^_^

    ReplyDelete
  10. Ini artikelnya indah banget..
    jadi inget Sister D, jadi kangen lagi dan pengen retret lagi..
    pengen ngumpul" sama brothers and sisters, mau ngumpul sama semuanya lagi.

    gw tau klo my brother yang satu ini kuat sekaligus lembut, dan gw yakin my brother bisa face the world dan survive jadi orang yang hebat :)
    we are, your family, always here beside you.
    we love you and we are also your MOTHER :D
    Much love and light for your life

    ReplyDelete
  11. Well thanks bee :)
    yups. . gw juga kangen sama keluarga spiritual nih . .

    ReplyDelete