Thursday, October 29, 2009

Kembali Tersenyum


Di kampus saya memiliki seorang teman namanya Daniel Kurniawan, ia selalu menjadi bahan pembicaraan di komunitas saya. bukan karena keburukan yang ia miliki, namun karena ia memiliki sebuah karakter berbeda diantara kami. Ia merupakan sosok pemuda yang menyenangkan, selain plegmatis dan mudah bergaul, Daniel merupakan sosok yang murah senyum. Dan setiap kali ia tersenyum ia selalu memberi getaran kedamaian serta keceriaan bagi siapapun yang melihatnya. Sehingga kami selalu membicarakan senyumnya yang menurut saya penuh dengan ketulusan.

Bertepatan dengan perayaan Waisak di tahun 2009 ini, saya berkesempatan untuk mengikuti latih diri (retreat) bersama delegasi dari Plum Village, Prancis. dan bagi saya, hal itu merupakan kado Waisak terindah sepanjang saya menjadi Buddhis. suatu hal yang masih teringat jelas dalam ingatan saya adalah senyuman hangat dari monastik Plum Village. sebuah senyuman indah yang tidak saya lihat sebelumnya. hal ini membuat saya terkagum-kagum dan terus tersenyum jika melihat wajah dari para monastik saat retreat itu berlangsung. senyuman itu membuat saya lupa akan segala masalah dan menimbulkan rasa damai dalam diri saya.

Merujuk pada dua kisah diatas, saya sadar dengan kehidupan saya belakangan ini. Diantara teman saya memang saya terkenal sebagai sosok yang selalu ceria dalam berbagai event. Namun selama beberapa bulan saya berdomisili di Jakarta, ritual itu mulai menguap, terkadang saya harus tersenyum dengan munafik dan lebih banyak diam atau melamun, tak ayal hal itu menimbulkan berbagai persepsi dari beberapa teman saya di kampus, bahwa saya dikenal sebagai anak yang pendiam dan angkuh.
Entah mengapa beberapa masalah telah mengubah sosok saya yang menyenangkan menjadi tempramental dan emosional. Sehingga terkadang bebrapa teman lama merasa asing dengan diri saya, parahnya lagi saya pun merasakan hal yang sama. Tidak ada lagi keceriaan dalam diri saya, hanya lamunan di siang hari dan keluhan kepada Buddha di malam hari.

Sampai suatu sesi , saya merasa hidup saya sangatlah hambar dan tak berwarna, saya merasa mengapa masa lalu saya sangatlah menyenangkan walau hanya bermain di bawah pohon beringin atau di pinggir sungai saat sore hari. Perlahan saya mulai merunut beberapa hal yang saya rasa jarang saya lakukan, dan hal ini adalah senyum ketulusan yang selalu menjadi senjata pamungkas saya dalam berelasi.

Perlu diketahui, dahulu ada beberapa teman yang menyematkan gelar bahwa senyuman saya mampu menghadirkan keceriaan dalam diri mereka, dan kini saya rasa predikat itu tidaklah layak kembali saya terima. Dengan kemunafikan yang saya kembangkan dalam setiap senyuman saya.

Setelah saya mendapat sedikit pencerahan di sesi itu, saya mulai berpikir, jika saya melakukan hal itu (tertawa dan menebar senyum seperti dahulu) maka saya akan terlihat seperti anak kecil dan menciptakan image yang tidak mendukung citra saya sebagai pemuda yang beranjak dewasa. lalu apa yang harus saya lakukan.? Hal ini membuat saya rehat sejenak untuk berpikir dan mulai mencari inspirasi, sampai khirnya saya membuat janji dinner bersama Daniel. Walau saya hanya berbincang masalah di bangku perkuliahan namun entah mengapa senyuman Daniel mampu membuka gudang pemikiran buntu saya untuk menanggani masalah yang masih menjadi tugas rumah saya.

Dan akhirnya saya berpikir, apapun konsepsi orang terhadap kedewasaan dalam diri saya, bukanlah hal yang harus saya pikirkan. Bukankah dewasa itu dinilai dari sikap kita menghadapi masalah dalam diri saya. Sehingga saya memutuskan untuk kembali tersenyum dan menjadi saya yang dahulu. Saya yang tersenyum, saya yang ceria dan saya yang dapat membagi kebahagiaan saya kepada siapapun yang saya cintai.

Terkadang kita tidak sadar, bahwa banyak masalah yang sering mengikis keceriaan kita bahkan ketulusan kita untuk dapat tersenyum. Inilah kisah saya dengan senyuman saya, bagaimana dengan senyuman anda.? Dan dapat saya katakan bahwa hal yang paling saya sukai adalah ketika saya melihat sebuah senyuman. Karena saya percaya bahwa senyuman adalah obat terbaik untuk menghadapi segala masalah, tersenyumlah untuk kehidupan kita.

No comments:

Post a Comment