Sunday, November 28, 2010

Cinta dan Tanaman


Cinta, ini adalah kalimat kontroversi yang kiasnya selalu terpajang di setiap lagu-lagu disepanjang zaman hingga saat ini dan disegala bahasa termasuk bahasa sunda. Tak ayal jika cinta dapat dikatakan sebagai sebuah kekompleksan dari kehidupan manusia.

Tak hanya itu, berbagai sosok mendeskripsikan cinta dengan perspektifnya masing-masing. Apapun persepsi itu, dalam artikel ini saya akan membahas masalah kisah insan yang dimabuk asmara, alias kisah percintaan pada umumnya.

Sebuah keunikan pristiwa memacu saya untuk menulis artikel ini, saya mempunyai dua contoh sampel berbeda untuk memperluas topik. Beberapa hari yang lalu saya terlibat sebagai saksi hidup pertikaian antar kekekasih, Mereka tampak terbakar kobaran api penderitaan yang timbul dari kemarahan tersebut. Keduanya saling menyakiti dan terkesan mencabik-cabik makna mencintai. Mereka terkesan bagi dua monster yang tak saling kenal dan menyakiti sebisa mungkin. Tak terlihat sedikitpun perwujudan cinta dari kedua belah pihak, semuanya terbakar.

Hal ini memicu saya ikut terbakar atas tingkah yang memacu adrenalin tersebut, untungnya saya dapat mengamati kemarahan saya dan akhirnya memutuskan untuk “acting” marah agar kedua belah pihak diam dan berhenti untuk saling menyakiti. Sebuah penilaian buruk timbul ; Keharmonisan jauh dari hubungan mereka.

Tak lama hari berselang, saya bertemu dengan seorang rekan yang lama tak terdengar kabarnya, ia membawa seorang teman baru yang tampak asing. Saya masih sulit mendapatkan kabar kebenaran hubungan mereka sejauh apa. namun saya mampu merasakan ada cinta dalam hubungan mereka. Mengapa demikian ? pasalnya kedua belah pihak tampak sangat melengkapi dan solid. Saya rasa ini adalah keindahan, ketika salah satu dari mereka tidak dalam kondisi yang baik, satu yang lainnya hadir untuk membantu dan berusaha mentransormasikan ketidaknyamanan tersebut. Keduanya saling menyirami benih-benih cintanya dengan perhatian. Hal ini membuat saya pun ikut saling menyirami benih-benih tersebut antar keduanya dan beberapa rekan melihat prilaku kami sebagai sebuah anugerah memiliki komunitas yang saling memberi support. Seketika sikap mereka menginspirasi saya untuk mampu menyirami benih-benih serumpun kepada para kerabat yang saya cintai.

Sebuah kesimpulan kecil dari dua pristiwa diatas adalah pentingnya rasa untuk saling menyirami benih-benih cinta. Thich Nhat Hanh berkata bahwa “Cinta adalah keorganikan”, hal ini tentunya mengibaratkan cinta sebagai sebuah benih yang akan tumbuh, jika setiap hari kita menyirami benih tersebut dengan nutrisi yang tepat, tentunya benih tersebut kelak akan tubuh dengan indah. Maka mari kita rawat dan olah benih cinta kita dengan nutrisi yang prima dan tepat.Benih cinta bukan berarti hanya kepada pasangan kita saja, tanpa kita sadar sebenarnya kita memiliki banyak benih cinta yang harus disirami, baik kepada famili, sanak saudara, sahabat, teman dan handai taulan. Enjoy your practice J

2 comments:

  1. It's true :)
    hmm..mgkn ky yg u blg,kdg2 cinta it terbungkus sama keegoisan pribadi,that's why they hurt each other.. :)

    good writings anyway b^^d

    ReplyDelete
  2. kayaknya menurut aq judul tanaman itu kurang match. karena gak terlalu membahas tanaman.hehe

    ReplyDelete