Wednesday, July 22, 2009

Permata Negeri Tibet

“Selama ruang masih ada, dan selama makhluk-makhluk hidup masih ada, selama itu pula saya ingin tinggal di dunia, untuk melenyapkan penderitaan dunia.” Sebuah syair indah Shantideva yang dikutip dalam film Kundun ini sangat menginspirasi banyak insan khususnya umat Buddhis di seluruh dunia. Tahukah anda? Film yang dirilis pada tanggal 25 Desember 1997 ini menceritakan tentang biografi pemenang nobel perdamaian tahun 1989 yaitu Tenzin Gyatso atau yang lebih populer dengan nama HH. Dalai Lama XIV.

Dalam film ini diceritakan tentang kehidupan Dalai Lama yang sangat gemilang dalam upaya menegakan HAM dan Kebebasan Tibet dari pengaruh Cina, dimulai dari kelahirannya pada tanggal 6 Juli 1935 hingga ketika ia harus berjuang sekuat tenaga demi menyelamatkan kebudayaan dan pendidikan di bumi Tibet.

Film yang disutradarai oleh Martin Scorsese ini dengan gamblang mengungkapkan kisah hidup HH. Dalai Lama XIV termasuk saat perkembangan awal bumi Tibet mulai dikuasai oleh pemerintah Cina dengan segala arogansi politiknya. Dalam kisah film yang gagal terbit di layar lebar ini banyak memuat filsafat buddhis yang universal dan bersifat fundamental sehingga mampu memberi inspiratif bagi para penyaksinya.

Sebuah kisah inspiratif yang saya sukai adalah ketika pada tahun 1950 saat 80.000 tentara pembebasan rakyat menyerang Tibet. Saat itu suasana genting telah menyelimuti istana Potala (istana tempat tinggal Dalai Lama XIV sebelum kepengasingannya di Dharamsala.) segala penjuru negeri atap bumi itu menjadi begitu mencekam, mengapa tidak segala penjuru monastik di Tibet menjadi serangan pasukan Cina yang secara membabi buta telah melakukan banyak pelanggaran HAM dan penghancuran terhadap kebudayaan emas bumi Tibet. Namun di balik itu semua HH. Dalai Lama XIV dengan penuh kebijaksanaan melakukan aksi ahimsa atau yang di kenal dengan perjuangan tanpa kekerasan dan melakukan rekonsiliasi dengan pemerintah Cina. Dan banyak melakukan terobosan dan pemikiran-pemikiran brilian walau gencatan oleh negeri tirai bambu ini makin agresif.

Ada pesan moral yang selalu memberi motivasi dalam diri saya adalah kegigihan dan semangat perjuangan HH. Dalai Lama XIV, ditengah semua kegentingan yang melanda negerinya serta segala agresi Pemerintah Cina terhadap dirinya ia mampu memberikan sebuah pesan universal bahwa kekerasan hanya mampu dikalahkan dengan cinta kasih.

Satu hal yang lebih menarik tentang kisah hidup HH. Dalai Lama adalah ia mampu menaklukan penderitaan dan mengubahnya menjadi sebuah latihan spiritual. Pada suatu sesi Guru Spiritual rakyat Tibet ini berkata bahwa Penderitaan adalah guru terbaik baginya. Hal ini mampu menjadi suatu inspirasi yang membuat kita untuk tetap tegar dalam bertahan dan mampu merubah konsep kita dalam memandang penderitaan. Justru satu makna baru yang saya pikirkan adalah tanpa penderitaan Dalai Lama tidak akan pernah menjadi orang yang besar seperti sekarang. So don’t say good bye to your sorrow.

No comments:

Post a Comment